Latest blog posts

{getFeatured} $results={5} $label={recent}

Semua Jenis Sepeda Bisa Bergabung

MTB, Hybrid, Gravel, Cyclocross, Road bike, DH, Commuter bike, Pixy bike, Jengky, Sepeda mini, BMX/Dirt Jump, Sepeda Unto, Sepeda lipat, Lowrider bike dll..

Rogowangi

Ponorogo Gowes Jemu'ah Bengi, kopdar, gowes bareng, kampanye dan gerakan mengajak masyarakat Ponorogo untuk bersepeda yang dijadwalkan sebulan sekali setiap hari Jum'at malam, minggu ke IV..

Goweser Ponorogo Berbagi dan Bukber

KSP berbagi 24 Juni 2016 dan Goweser Ponorogo Road to Share 17 Juni 2017 dalam rangka dalam rangka bulan Ramadhan 1437H-1438H.

GOBAR bersama FORPIMDA dan Pecinta GOWES

3 Maret 2017 Gobar bersama FORPINDA start dan finish Mapolres Ponorogo.

FUN RIDE AND GAME Halal Bi(ke) Halal Komunitas Sepeda Ponorogo

Halal bi halal KSP 8 Juli 2018, Bendo Bike Park Sawoo yang diselengarakan oleh Gabungan Goweser Ponorogo Tenggara Godolan, Gosong, DMC, Goperet, Argon, Borongan, BRJ.

GOWESER DARI RUSIA OLGA LAMAKINA

Goweser Rusia yang berkunjung ke Indonesia, touring dari Jakarta menuju Bali dan singgah di beberapa kota termasuk Ponorogo pada Kamis 7 Februari 2019, disambut oleh Goweser Ponorogo dan Wonogiri yang mengawal dari perbatasan Jateng-Jatim.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Gowes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Gowes. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Maret 2023

Gowes Air Terjun Plasur Desa Kunti Sampung Ponorogo seperti ini kondisinya sekarang

Komunitassepedaponorogo.or.id - setelah pandemi covid-19 berakhir aktivitas  pergowesan goweser Ponorogo mengalami penurunan, walaupun masih ada yang aktif tapi tidak seramai waktu pandemi covid-19 terjadi. 

Pada Sabtu (11/03/2023) Goweser Ponorogo barat mulai beraktivitas (gowes) kembali, berawal dari saling komen digrup official KSP Barat ( Komunitas Sepeda Ponorogo Barat), akhirnya disepakati gowes dengan tujuan air terjun Plasur yang berada di Desa Kunti Kecamatan Sampung Ponorogo. 

Tiga goweser berangkat dari rumah masing-masing menuju titik kumpul di rumah Pak Unting Desa Kapuran, mereka adalah Upik Dari Kauman Sumoroto, Adri Toyek dari Sumoroto dan Muklis dari Mlembem. 

Setelah semuanya sampai di titik kumpul mereka berangkat jam 07:00 menuju tujuan yang berjarak 10 Km. Menurut Muklis ini merupakan gowes chiki-chiki sekedar gowes silaturahmi karena kami lama tidak gowes bareng sembari curhat dan mengenang mantan, ungkapnya. 

Selama perjalanan mereka saling bercerita masa-masa dunia pergowesan di Ponorogo masih ramai, tak lupa mampir dulu di rumah Pak Agung Joyo yang kebetulan satu jalur ke tempat tujuan, berharap Pak Agung bisa ikut, kata Muklis, ternyata ngeprank wah... Bouruk. 

Setelah sampai di Desa Kunti menurut Upik ada dua jalur bisa dilewati untuk menuju air terjun Plasur ini, jalur pertama lewat selatan melewati hutan yang lebih panjang, kedua lewat jalur utara yang jalurnya lebih landai. Mereka lewat jalur utara untuk mempersingkat waktu

Foto Gowe jalur Air terjun Plasur





















 


Selasa, 30 Juni 2020

Google MTB, Clurutan Track DH Cemoro Sewu

Google MTB

komunitassepedaponorogo.com - Cemoro sewu nama yang tidak asing bagi para pendaki atau pecinta alam, tempat dengan ketinggian kurang lebih 1.820 MDPL ini merupakan titik awal salah satu jalur pendakian ke gunung lawu. Gunung lawu memiliki 3 jalur pendakian resmi yaitu cemoro sewu, cemoro kandang, dan Candi Cetho. Gunung lawu masuk dalam 3 kabupaten meliputi Magetan, Karangayar, dan Ngawi.

Cemoro sewu secara administratif masuk dalam wilayah kabupaten Magetan, selain sebagai jalur pendakian, yang menarik ada jalur untuk bersepeda lebih tepanya track downhill dan all mountain.  

Menurut informasi sudah banyak pesepeda yang sudah mencoba track ini, salah satunya adalah club Gogle MTB, yang berasal dari Ponorogo, pada Minggu 26/06/2020, menurut Dwi Cahyani yang merupakan anggota Gogel MTB, mereka 5 orang, 2 cewek dan 3 cowok, loading menggunakan kendaraan roda 4, berangkat dari Ponorogo jam 07:00 wib sampai di Cemoro Sewu jam 08:30 wib, selanjutnya mereka menunggu pesepeda dari Purwodadi.

Tepat jam 11:30 wib start, menyusuri jalur hutan dan berliku, diperlukan konsentrasi yang tinggi, setelah sekitar satu setengan jam mereka menikmati track C1000, finis jam 13:00 wib. "Jalurnya menurutku bagus, ada yang sulit di lalui ada juga yang enak dilalui, ada juga yang sangat curam yang terpenting safety riding, pakai helm, pelindung dengkul, sarung tangan" cerita gowesist yang masih jomlo ini.
Dwi Cahyani Gogle MTB
Dwi Cahyani



lebih serunya, 
Simak cerita perjalanan google MTB berikut ini:

Hallo gaes sahabat MTBers, sesuai dengan namanya ya MTB (mountain bike).
Berawal dari menyukai sepeda sebagai sarana olahraga dan rekreasi kami lebih menyukai track yang berada di hutan dan pegunungan. Kita menyukai Jalur tersebut karena cukup menantang dan memacu adrenalin, selain itu kita akan menemui kearifan lokal sangat istimewa di jalur tersebut.
Mungkin rekan-rekan goweser jarang menemui kami di jalan raya, ya kami jarang gowes dijalan raya, mungkin bisa bertemu ketika di pegunungan atau di warung makan, karena kita santun di jalan, liar dimeja makan.

Selain berolahraga dan memacu adrenalin tidak lupa kita foto-foto dong tentunya, mengingat banyak sekali spot foto yang cantik-cantik di track tersebut.

Oh iya kita kembali ke track cemoro sewu ya, track ini adalah track DH tentunya ada beberapa obstacle yang tidak  semua anggota bisa lalui, tapi tenang gaees ada chicken way nya kok! So yang belum hafal jalur ya kita cari aman aja gaesss, katanya safety can be fun. Oh iya gaes ini bukan hanya kaum adam saja lo, buat kaum hawa yang menyukai tantangan bisa di coba kok, kayak anggota kita-kita nih. Pokok nya seru gaesss, oh iya yang mau ke jalur tersebut jangan sampai berangkat sendirian ya, harus ada leadernya sebagai penunjuk jalan. Walaupun jalur yang kita lalui ini mayoritas turunan tp kita tetap membutuhkan tenaga, konsentrasi dan fisik yang cukup lo ya gaess. Salah sedikitpun konsentrasinya kita bisa terperosok ke semak-semak.
Sekian ya gaesss!!
Salam emtebe ers

Foto2 kami gaes...



Senin, 29 Juni 2020

Sebuah Opini : Trend Bersepeda Di Masa Pandemi Covid-19, Antara Gaya Hidup, Kesehatan, Keselamatan Dan Etika Bersepeda.


komunitassepedaponorogo.com - Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman semua,
salam warok pancal pedal,
salam gowes.

Akhir- akhir ini bersepeda merupakan aktivitas yang banyak diminati, dimana-mana kita bisa menemui pesepeda mulai dari anak-anak sampai orang dewasa fenomena ini hampir terjadi di seluruh Indonesia. Berbagai macam aktivitas bersepeda mereka lakukan, gowes tipis-tipis antar Desa atau Kota, gowes ke tempat-tempat wisata lokal, gowes adventure ke hutan dan gunung, jalur offroad atau loncat-loncat di track DH (Downhill), gowes malam, bike to work (komuter) bahkan ada yang gowes cinta, gowes mesra GOSERA (saya meminjam istilah yang digunakan Pak Dwi kel kel kel).

Selain untuk olah raga, nampaknya bersepeda telah menjadi gaya hidup, anak-anak muda yang dulu menggunakan motor untuk mencari jati diri, track-trakan dijalan, balap liar dan lain-lain, sebagian telah beralih bersepeda, bisa kita lihat pada malam hari di jalan baru, di alun-alun atau di tempat strategis lainya khususnya dimalam minggu banyak anak muda hangout dengan bersepeda, uniknya lagi  ada salah satu club motor membuat club sepeda pula, selain sebagai biker mereka juga goweser, sebut saja CB Warok Mancal (colek Pak Henry Warok) hemmmm.

Secara tidak langsung pesatnya perkembangan dunia persepedahan (sebut: goweser) memberikan nilai positif kepada masyarakat, baik secara ekonomi, sosial budanya dan politik. Sebagai contoh kecil secara ekonomi, banyak sekali, individu (masyarakat) selain sebagai goweser mereka juga sebagai penjual sepeda ataupun part-part dan asesoris, kalau dalam bahasa candaan teman-teman goweser, "Level karir tertinggi seorang goweser memang mbakul wal mblantik pit, tapi tidak semua bakul adalah goweser aktif" saya kutip dari tulisan Om Januaji (Sepeda Besi, Apa Istimewanya?), dan saat ini menurut beberapa sumber, toko sepeda di Ponorogo mengalami peningkatan penjualan 200-300%, luar biasa...,  itu sebagai bukti memberikan nilai positif dalam bidang ekonomi dan banyak sekali contoh-contoh lainnya, dari segi sosial, budanya dan politik tidak perlu saya sebutkan disini.

Selain memberikan nilai positif, akhir-akhir ini aktivitas bersepeda menjadi sorotan publik, apapun aktivitasnya, di tempat  umum, di jalan dan mungkin juga di jalur hutan, jika ada sesuatu yang kurang pas, pasti akan diposting disosial media. "Keluhan", "kritikan", "masyarakat" kepada pesepeda disosial media sering menjadikan pro kontra, dan secara tidak langsung memberikan citra negatif kepada pesepada.

Seiring semakin berkembangnya pesepeda khususnya di Ponorono tentunya memberikan warna, corak dan karakter terhadap goweser itu sendiri, banyaknya pesepeda baru menurut saya, kurang memahami "etika / adap dan safety riding" dalam bersepeda, hal ini yang sering menjadikan OKNUM pesepeda melanggar etika, adab, dan aturan yang berlaku.

"Keluhan, "kritikan" "masyarakat" bisa dijadikan intropeksi kepada semua pesepeda di Ponorogo, sesama pesepeda bisa saling mengigatkan, ketua-ketua  club atau koodinator bisa mengkondisikan, bisa memberikan edukasi anggotanya, untuk pesepeda atau club-club yang lama bisa memberikan contoh baik kepada pesepeda atau club-club baru, kepada masyarakat yang kontra, mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, tidak semua pesepeda melangar "etika, adab, dan aturan" yang berlaku, kalau kita berbicara pelanggaran dan ketidaktertiban terntunya selain pesepada, banyak pengendara kendaraan lainya melakukan hal yang sama, mungkin karena euforia bersepeda saat ini yang menjadikan magnet "kekepoan", kalau kita lihat dari perspektif hukum semua sudah diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan.


Sebagai penutup,
Marilah menjadi goweser yang smart, paham protokol bersepeda dalam masa pandemi covid-19, paham safety riding, beretika, beradab, dan mematuhi peraturan yang berlaku.

Marilah kita sudahi saling salah-menyalahkan, saling mencari pembenaran, coba kita renungkan bukan aktivitasnya gowesnya, bukan aktivitas berkendara lainya  yang salah tetapi tergantung individunya,

KARENA "Kesadaran dan kedisplinan sesama pengguna jalan lah yang dapat menciptakan jalan yang aman dan nyaman."

dan kedepan semoga ada kebijakan tentang persepedahan atau kampaye-kampaye "tentang ketertiban berlalu lintas",

"Ayo bersepeda !! untuk sehatnya Ponorogo dan kita"

ada kurang lebihnya mohon maaf
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Pak Unting





Selasa, 24 Maret 2020

Waspada Corona, Goweser, Warga dan Bhabinkamtibmas Desa Patik Pulung Ponorogo Melakukan Penyemprotan Desinfektan

Para gowesser Dukuh Tunjungan Kulon Desa Patik Kecamatan Pulung yang tergabung dalam KSCC (Kampak Seto Cycling Club) bersama-sama pemuda Kampak Seto dan warga RW II serta Bhabinkamtibmas Desa Aiptu Agus Wahyudi dan Babinsa Desa Patik melakukan penyemprotan desinfektan di tempat umum baik Masjid, Poskamling ataupun perumahan warga guna mengantisipasi merebaknya virus Covid-19, Selasa(24/3/2020).

Kepala Desa Patik Nurkholis mengatakan gerakan penyemprotan tersebut merupakan inisiatif sendiri dari para pemuda yang prihatin akan merebaknya virus Covid-19 tersebut.

“Untuk penyemprotan desinfektan sendiri merupakan inisiatif para pemuda maupun gowesser sendiri yang kemarin sudah diawali dari para perangkat desa, dan sasaran kali ini yaitu tempat umum baik Masjid, Poskamling maupun perumahan warga,”kata Nurkholis.

Lebih lanjut dalam melakukan penyemprotan tersebut guna mencegah serta mengurangi penyebaran virus melalui kontak baik benda maupun orang.

Masih menurut Kepala Desa, kegiatan penyemprotan seperti ini tidak bisa dilakukan sekali akan tetapi akan rutin dilakukan guna mengantisipasi adanya virus Covid-19 tersebut.

“Penyemprotan seperti ini belum tentu menjamin virus itu hilan akan tetapi kegiatan penyemprotan seperti ini akan terus rutin dilakukan. Kami baik dari Perangkat Desa maupun para pemuda dan gowesser Kampak Seto juga menghimbau masyarakat tetap jalankan hidup sehat dan tetap cuci tangan setelah atau sebelum beraktifitas serta menghindari tempat keramaian agar terhindar dari virus tersebut,”ujar Nurkholis.



(shanum BCC)

Rabu, 11 Maret 2020

Mi Goreng #2, Jalur Kucur Lingkar Barat Menyusuri Perbatasan Jawa Timur Jawa Tengah

komunitassepedaponorogo.com - Kucur merupakan kawasan bekas hutan wisata yang terletak wilayah Desa Badegan Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Kawasan hutan kucur banyak jalan yang bisa kita jadikan track bersepeda tinggal memilih sesuai dengan selera, ada lima jalur yang bisa kita pilih antara lain Jalur Kucur 1, Jalur Kucur 2, Jalur Kucur 3, jalur Kucur lingkar timur, jalur Kucur lingkar barat, semua jalur memiliki karakter yang bebeda-beda.
Survey jalur Kucur 2014

Pertama kali survey dan mapping jalur Kucur, tahun 2014 tepatnya tanggal 14 September 2014 bersama tiga orang, saya sendiri, Pak Budi dan Pak. Edi Eva Comp, dengan bantuan aplikasi mapmayride, hasil survey, kami beri nama JK1 (jalur Kucur 1) dan kami teruskan dengan jalur-jalur yang lain sampai tahun 2019 (foto-fotonya bisa dilihat disini klik, hasil mapping klik).
Start Jembatan Pelangi Biting (foto oleh Mas Ramdhoni)
Minggu 8 Maret 2020 kami gowes saya sebut Mi-gOreng #2 (Minggu Gowes Bareng) jalur Kucur lingkar barat dengan  sembilan orang, Saya, Pak Tatang (RBC), Pak Upik (Gopro), Mas Feri (Progres), Mas. Tomi Sibe (Gopy), Mas Denny (Goweser perbatasan Ponorogo Pacitan), Mas Rony (KSP), Mas Muklis dan Mas Izul (Gokasbat).

Sebelum gowes kami create route dahulu, mapping jalur, elevansi, jarak, dan perkiraan waktu tempuh (lihat peta). Rencana kami melewati track gabungan lingkar barat dan lingkar timur, tiga stage dengan jarak kurang lebih 15 km. Start dari Jembatan Pelangi Biting, kami bersembilan menuju ke arah timur jembatan Sumorobangun, petigaan timur jembatan ke kiri arah tambang pasir, sampai pertigaan ke kanan masuk hutan kayu putih jalur offroad berbatu, tanjakan tipis pertama. Dari tanjakan pertama ke kiri naik tipis, offroad berbatu single track sampai turunan stage 1. Dari sini kita bisa menikmati pemandangan yang lumayan indah karena lokasinya agak tinggi dilereng barat bukit Kucur, kalau kita melihat ke arah kiri, bisa melihat hamparan hutan kayu putih yang ditanami tanaman tumpang sari jagung, tampak kuning kehijauan. oh ya lokasi ini kalau sore hari, kita bisa melihat sunset yang sangat indah cocok untuk hunting foto.
Sunset Jalur Kucur lingkar barat(foto Ig Pak Unting)
Turunan stage 1 memiliki panjang sekitat 300 meter dengan kondisi jalur berbatu licin, mudah gerak, jalur ini digunakan penduduk untuk ke hutan, sering berpapasan dengan pengendara motor. Setelah turunan masuk perkampungan penduduk dengan kombinasi jalan mc-dam, cor-coran turunan tipis, agak curan dan tanjakan sampai dengan pertigaan Jengglong, tepatnya pertigaan bawah Masjid Jengglong.

Dari pertigaan Jengglong jalur mulai menanjak berkala :D, ke arah kanan sampai perempatan Jenggong (Cakruk Jengglong), disini sebaiknya istirahat dulu. Dari perempatan Jengglong ke kiri arah Prongkol dengan kiondisi jalur cor-coran tanjakan semi uphil, agak licin sampai dengan pertigaan prongkol, oh iya jangan kaget kalau ada anjing menggonggong :D .

Sampai dipertigaan Prongkol kami istirahat dulu, Mas. Tomi Sibe pulang karena ada acara, tidak bisa melanjutkan beliau ke kiri arah ngepal perbatasan Jatim-Jateng. Kami tinggal bertujuh, Saya, Pak Tatang (RBC), Pak Upik (Gopro), Mas Feri (Progres), Mas Denny (Goweser perbatasan Ponorogo Pacitan), Mas Rony (KSP) dan Mas Muklis (Gokasbat), loh kok tujuh tadi kan sembilan orang yah,, harusnya kan 9-1 = 8 karena mas Tomi Sibe pulang, oh iya Mas Izul (Gokasbat) ngk ada, saya sempat bingung disini kok anggotanya kurang satu, kirain masih dibelakang ternyata menurut Mas Denny,  Mas, Izul setelah tanjakan pertama beliau ada kepentingan langsung pulang, plong hati saya he he he.
PAL Prongkol batas Provinsi Jatim Jateng
Perjalanan kami lanjutkan dari pertigaan Prongkol ke kanan jalur aspal, menanjak bertahap sampai dengan tikungan arah Bukit Cumbri, lurus masuk stage 2 jalur offroad single track, sebelum masuk stage 2 kami melihat-lihat lokasi, di tempat ini terdapat PAL batas Jawa Timur dan Jawa Tengah karena Jalur Kucur lingkar Barat melewati dua provinsi, menyusuri perbatasan Jatim-Jateng khusnya pada jalur stage 2, kalau kita jeli akan menemukan PAL batas yang menyebar disepanjang jalur.
Single track stage 2
 Masuk stage 2 jalur berupa offroad single track, flat masuk hutan haterogen sebagian besar hutan jati, jambu mente, semak-semak perdu, semakin masuk track semakin basah dan ada bagian track yang blekuk (berlumpur) sekitar 100 meter, teman-teman menyebutnya sebagai jalur kebo (kerbau), karenan memang jalurnya seperti kubangan kerbau, tetapi menurut saya masih masih wajar walaupun berlumpur tapi tidak terlalu lengket. Perjalanan dilanjutkan lagi sampai pertigaan, kalau ke kiri arah Sodong, kalau jeli sebelah kanan jalan kita bisa menjumpai PAL batas, kami mengambil arah kanan masih single track dan berlupur lagi sekitar 100 meter lah.., wadawww... saya kaget beberapa tahun yang lalu walaupun musim hujan jalur ini tidak berlumpur he he he.
Turunan tipis stage 2 hutan Kucur
Setelah jalur berlumpur yang kedua, kami melewati turunan stage 2 jalur yang dinanti-nanti para goweser karena jalurnya berupa turunan yang lumayan panjang kondisi jalur berbatu gerak, licin, hutan jati, semak belukar disepanjang jalan, dengan pemandangan hijau dedaunan semak dan hawa sejuk semriwing, sampai pertigaan JK2 belok kiri turunan licin dan tebing longsor.
Stage 2 jalur diatas sungai
Setelah tebing longsor sampai di sungai kecil, kami istirahat sejenak sambil opservasi jalur, Pak Upik sebagai leader mengecek jalur diatas sungai yang tertutup semak-semak dan ranting kering, dari sini kami harus hati-hati karena jalur didepan sepanjang jalan samping kanan, kiri ditumbuhi rete-rete dan pohon tumbang, kemungkinan jalurnya melewati habitat king cobra (Ophiophagus hannah) higt venom, karena saya dua kali musin kemarau kemarin hampir menabrak ular yang ciri-cirinya mirip dengan king cobra, selain itu kemungkinan juga  habitat ular hijau ekor merah (Trimeresurus albolabris) higt venom.
Menerobos daun dan ranting yang beduri
Setelah beberapa waktu perjalanan, kami terhalang oleh pohon berduri yang menutupi jalur, mau tidak mau ya harus brobos (menerobos), melewati daun dan ranting berduri. Perjalanan kami lanjutkan melewati bekas Hutan Wisata Kucur dan finish di res area Kucur nyerang soto dan esteh. sedapnya...
Pak tatang & Mas Rony siap nyerang Es teh
Kami tidak melanjutkan stage 3 karena bisa dipastikan jalurnya berlumpur karena malamnya hujan. Stage 3, setelah bekas hutan wisata kucur, ada pertigaan belok kiri single track tembus belakang Polsek Badegan, terus ke arah utara masuk hutan kayu putih dan ladang penduduk, sisi timur hutan Kucur, mungkin next time bisa dilanjutkan lagi :D.

dibawah ini video perjalan kami
jangan lupa subcribe, like komen n share ya teman2 :D
Terima kasih



Penulis Pak Unting | Editor Pak Unting
 *) Bloger, Vloger, Goweser

Senin, 09 Maret 2020

Gowes Jalur Wonopuro Jambon, Mendaki Bukit Melewati Lembah


Wonopuro 24 April 2016
komunitassepedaponorogo.com - Wonopuro masuk wilayah Kecamatan Jambon kabupaten Ponorogo Dusun Sidowayah Desa Sidoharjo. Jalur ke Wonopuro sebagian besar masih berupa tanah, karena menurut beberapa sumber, Wonopuro termasuk daerah yang masih "terisolir". Destinasi menarik Wonopuro adalah puncak Gunung Bangkong dan taman baca Wonopuro, tetapi terakhir saya ke sana sudah tidak digunakan. Pertama kali gowes jalur Wonopuro pada 24 April 2016 berdua dengan Pak Agung Cipta, yang kedua tanggal 21 Sebtember 2019.

Saya akan bercerita gowes ke Wonopura yang ke 2, berangkat dari rumah jam 5:30 Wib, tikum di depan koperasi Aman Jambon, bersama empat orang, saya sendiri, Pak Upik, Mas Muklis dan Mas Region.

Waktu berlalu teman-teman sudah mulai berdatangan, tingal menunggu Pak Agung Joy yang belum datang, karena rencana kami muncak di Gunung Mbangkong masak-masak dan ngopi, Pak Agung sebagai master kompor tugasnya membawa kompor dan peralatan masak lainya, makanya kedatanganya sangat dinati-nanti.
Jam sudah menunjukan 7:15 Wib pak Agung Joy belum juga menampakkan batang hidungnya, dihubungi nomor hpnya, Whatsapp dan handy talky (HT) tidak ada respon wah bouruk..., akhirnya kami memutuskan untuk start meningalkan Pak Agung  Joy.

Start dari Koperasi Aman arah ke selatan menuju SDN 5 Krebet kurang lebih 5 Km, dengan kondisi jalur paving, aspal, cor-coran, mc-dam, datar, sedikit tanjakan dan turunan. Goweser yang belum membawa bekal bisa bisa mampir di pasar tradisinal Sidoharjo, kalau pas hari pasaran banyak penjual makanan dan minuman tradisional contohnya puli, getuk, cenil dan lain sebagainya, tapi kalau tidak pasaran ya sepi. :D .

Kami berhenti di pasar Sidoharjo, kebetulan pas hari pasaran, membeli nasi pecel bungkus godong jati dan minuman parem sebagai bekal dalam perjalanan, rencana nasi pecel kami makan di puncak Gunung Bangkong, selesai belanja perjalanan kami lanjutkan ke SDN 5 Krebet.

Sampai di SDN 5 Krebet kami istrirahat dahalu karena perjalanan selanjutnya menguras tenaga menuju ke Wonopura. Dari SDN 5 Krebet sebetulnya untuk sampai ke tujuan, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 Km, tetapi jalurnya sebagian besar masih tanan (offroad) dan menanjak, dari sinilah menurut saya penjalanan yang menarik karena sebelum sampai di Wonoporo, jalurnya melewati bukit, hutan dan ladang penduduk, kita bisa melihat pemandangan yang lumayan bagus dan khas suara hutan, suara garengpung (Cicadidae).
Belik (mata air) Wonopuro
Selain menarik jalur dari SDN 5 Krebet sampai Wonopura merupakan penjalanan yang lumayan berat menurut saya, karena sebagian besar jalanya berupa tanjakan yang kita harus menuntun sepeda karena memang tidak bisa kita pancal, kalau diprosentase sekitar 75% tuntun sepeda, makanya kami sering berhenti, selain capek memang kami santai, tidak ada taget waktu untuk sampai tujuan dan biasanya moment seperti ini kami gunakan untuk bercanda, melepas tawa, apalagi para jomblowan sukanya curhat hehehe hehe, kebetulan Mas. Muklis dan Mas Region saat itu masih jomblo yah ... jomblo, jomblo akut mungkin mereka merasakan beratnya tanjakan yang mereka lalui seberat kisah cintanya, jadi untuk melepas beban cinta mereka curhat ke saya, jadi critanya Mas. Muklis ini kan naksir seseorang namannya..... aduh... saya kok jadi ghibah... maaf..maaf.. ceritanya saya cut saja.

Sekitar jam 10:00 wib, sampailah dirumah penduduk pertama sebelum masuk perkapungan Wonopuro, kami istirahat di belik (mata air) yang ditumbuhi pohon besar dan rindang, wah sejuk sekali, karena sudah lapar kami memutuskan untuk makan nasi pecel godong jati, wah nikmat... pas sekali momenya, selesai makan kami ngobrol dengan penduduk sekitar, kami berkenalan, bercertia banyak hal, sebagian dari kami istirahat diatas pohon yang besar sambil menikmati sejuknya udara sambil tidur-tiduran.
Mesra sekali mereka ya?
Tak terasa waktu semakin siang sudah jam 11:00 wib, rupanya kami keenakan disini perjalanan, kami lanjutkan menuju taman baca Wonopuro, rencana kami mampir ke taman baca dulu sebelum muncak Gunung Bangkong.

Kami sampai di Taman Baca Wonopuro yang bangunanya terletak didepan Rumah Pak RT,  yah kami berencana istirahat dulu disini, sambil minta ijin untuk naik ke Gunung Bangkong. Selang beberapa saat Pak Rt datang sambil membawa kopi wah... jadi ngerepotin neh.... rencana kan haya sebentar istirahatnya, mau ngk mau  kami ngobrol sama Pak Rt sambil menikmati kopi, wah sedapnya...
Taman baca Wonopuro
Cukup lama kami ngobrol dengan Pak Rt, waktu sudah menunjukan jam 13:00, kami memutuskan untuk pamitan pulang dan tidak jadi muncak ke Gunung Bangkong, tapi ngk apa banyak sekali cerita dan pengalanan mereka yang bisa kami ambil hikmahnya mungkin suatu saat bisa kesini lagi muncak ke Gunung Bangkong. akhirnya kami semua turun, alhamdulillah bisa kembali kerumah masing-masing dengan selamat.

Mapping map:
https://www.mapmyride.com/routes/view/2919735616


dibawah ini video perjalan kami
jangan lupa subcribe, like komen n share ya teman2 :D
Terima kasih




Penulis Pak Unting | Editor Pak Unting
 *) Bloger, Vloger, Goweser

Rabu, 26 Februari 2020

Cinta yang terkontaminasi, gowes Benteng Van Den Bosh Ngawi ninggal janji


Tetap semangat..!

Menyusuri jalan berliku
Mencari belahan jiwa

Wahai belahan jiwaku
Aku pasti menemukanmu

Hangatnya mentari
Mengisi relung hatiku
Belahan jiwaku
Aku selalu merindukanmu

Kidung  jomblowan "one for all"
Febri, Pipin, Aris, Kemad, Ilham
Benteng Pandem 2016
__________________________

komunitassepedaponorogo.com - Benteng Van Den Bosch terletak di Jalan Untung Suropati, Pelem, Kecamatan Ngawi, Jawa timur, lokasinya sangat strategis mudah dijangkau kendaraan dan termasuk jantung Kota, sekitar 1 Km  ke arah timur laut dari kantor Pemerintahan Ngawi. Benteng Van Den Bosh oleh masyarakat sekitar lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem karena bangunanya lebih rendah dari tanah sekelilingnya, Pendem (bahasa jawa) artinya terpendam.

Menurut beberapa sumber  pada abad 19 sebelum Benteng ini dibangun merupakan pusat pertahanan Belanda pada perang Dipnegoro (1825-1830) dan menjadi pusat perdagangan Jawa Timur kala itu. Benteng Pendem dibangun pada tahun 1839-1845, dihuni oleh tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

Kini Benteng Pendem dijadikan destinasi wisata sejarah dikunjungi wisatatawan lokal dan manca negara termasuk kami goweser tak mau ketinggalan juga untuk mengunjungi wisata sejarah ini.

Pada tanggal 15  Mei 2016, kami berlima Aris, Pipin, Ilham, Kemad dan saya sendiri (tukang cekrek) gowes ke Benteng Van Den Bosch Ngawi. Start dari Ponorogo jam 05:00 Wib finish jam 10:00  Wib, sekitar 60 km, lima jam perjalanan  kami lalui dalam keceriaan, kebersamaan, persaudaraan dengan teman-teman, menikmati setiap kayuhan karena bukan target waktu yang kami kejar untuk sampai tujuan. 

Sampailah dipintu gerbang masuk Benteng Pendem,  Sebelum masuk lokasi kami harus membayar tiket, selelah masuk kami berkeliling melihat bangunan benteng yang memukau bangunnya khas bergaya Eropa dan Romawi lengkap dengan beberapa perlengkapan pertahanan.

Seperti biasa gowes tidak lengkap kalau tidak foto-foto, GCU (Gowes Cekrek Upload) itulah motto kami he he he. Menurut saya tempatnya cocok untuk hunting foto, banyak sekali view yang bisa kita jadikan latar belakang bernuansa klasik dan megah. Oh iya  kami juga bersamaan dengan pengunjung lain yang lagi foto prewed, nah... ini yang bikin kami nyesek dan ambyar yah... kami kan jomblowan, apalagi itu si Aris yang gampang baperan bermuka melas sudah ngebet pengen nikah ngk kuat nahan nafsu katanya wkwkwkwkwk.... 

Kami di Benteng Pendem  cukup lama selain tempatnya sejuk, kita bisa ngasih makan burung merpati yang sengaja dipelihara, pokonya asik gaes... kalau nggak percaya kesini deh. Yang bikin menarik lagi kami bertemu wisatawan  cewek-cewek cantik yang lagi duduk-duduk ditanah lapang dekat Benteng, dengan secepat kilat Aris langsung nyamperin... wah parah si Aris main tikung aja hadew...,  tak mau kalah Kemad untuk menarik simpati, dengan sepeda exrada 5 menunjukan atraksinya eh... malah terjungkal dan menjadi ketawaan kami semua wkwkwk asik pokonya gokil gaes... he he he....

Akhirnya kami berkenalan bertukar nomor whasapp, alamat, bercanda, mengobrol kesana kemari sampai mendengar pengakuan masih jomblo dari mereka... wah semakin kami semangat untuk mendekati dan berkenalan lebih jauh, biasalah kami kan jomblowan akut, ups..."wah kesempatan neh... "mungkin ini jodoh saya" dalam hati. Sebelum berpisah kami foto-foto terlebih dahulu, syahdu gaes..., sebagai kenang-kenangan kami foto bersama dan berjanji suatu saat ketemuan lagi disini. Akhirnya kami berlima pulang kembali perjalanan ke Ponorogo dengan membawa harapan benih-benih cinta yang bersemi dan berkembang suatu saat "harapan kami kala itu". Aamiin.

Selalu ada cerita disetiap kayuhan, mana cerita Gowesmu Gaes... :D







Penulis Febrian Enggi | Editor Febrian Enggi, Pak Unting

Selasa, 25 Februari 2020

Asiknya Gobar "Jelajah Bumi Among Rogo" bisa foto dengan Mbak-mbaknya yang cantik

komunitassepedaponorogo.com - Ok teman-teman Assalamu'alaikum kali ini saya  akan berbagi cerita acara Gobar SEGO "Semanding Gowes Adventure Ponorogo" yang bertema "Jelajah Bumi Among Rogo".

Kami dari GOKASBAT (KSP Ponorogo Barat), Rencana mau berangkat dengan empat  orang , Saya sendiri, Mas Muklis, Pak Agung dan Mas Region, ternyata diluar rencana yang telah dipersiapkan, Mas Muklis ngk jadi ikut wah bouruk... padahal sudah dibelikan tiket, akhirnya hanya tiga orang yang berangkat.

Berangkat jam 5:00 wib langsung menuju lapangan  Semanding  Kecamatan Jenangan Ponorogo, setelah sampai mempersiapkan sepeda dan apesnya tiketnya lupa ngk kebawa gaes.... bouruk ini, akhirnya cari lagi tiket di venue untuk dua orang, Saya dan Pak Agung karena Mas Region dibawa sendiri tiketnya.

Start sekitar jam 7:00 wib semua peserta mulai menyusuri jalur gobar yang panjangnya sekitar 25 km, dari lapangan semanding belok kiri arah Ngebel sekitar 1 km, belok kanan turunan dan tanjakan yang lumayan menguras tenaga tembus jalan aspal belok kanan menyusuri perkampungan, persawahan, belok-belok dan muter-muter pokoknya gaes.., dengan kobinasi jalur aspal, cor-coran, tanjakan dan turunan tipis.

Selama perjalanan Mas Region sudah jauh didepan meninggalkan kami (Saya dan Pak Agung), sampai ditanjakan Gunung Dangean. Disini banyak ketemu dengan teman-teman goweser, canda tawa kami lalui, saut menyaut kata- kata lucu Segone wes mateng? Semongkone endi?, SPG ne wes macak? yah sekedar candaan diwaktu istirahat untuk menghilangkan rasa lelah... :D

Pak Agung mulai lelah gaes... mengajak putar balik mencari jalan pintas padahal baru 9,4 Km, akhirnya mau saya ajak nanjak pelan-pelan jalur gunung Dangean, sampai puncak, turunan istirahat sebentar dipos air minum.

Perjalanan dilanjutkan arah Mlilir jalur sebagian onroad arah menuju kawasan hutan Gunting Desa Kradinan Dolopo Madiun, melewati turunan jembatan, naik jalur single track, offroad masuk hutan Gunting wah... Jalurnya becek gaes..... licin lagi... mau ngk mau harus tutun bike wekeke...,

Semakin masuk  beberapa puluh meter dalam hutan jalurnya semakin asik, semak-semak hutan jati yang rimbun dan sejuk, sempat was-was juga seh...dilihat dari vegetasinya kemungkinan besar habitat ular hijau ekor merah (Trimeresurus albolabris), high venom dan di Indonesia belum ada SABU nya (Serum Anti Bisa Ular) ngeri... Gaes..., apalagi Pak Agung sering berhenti disemak-semak kakinya kram lah, tanganya pegal-pegal lah, bokong panas lah, celanya sobek lah, komplek dah... pokoknya, tapi ngk apa-apa serunya memang disitu sambil menikmati perjalanan.

Setelah keluar dari kawasan hutan Gunting sampailah pada Pos Semongko, disini Pak Agung hilang lagi entah kemana, (mungkin mencari ... wekeke)  bouruk...!, setelah saya cari-cari ngk sengaja ketemu dengan Pak Udin ngobrol sebentar tanya-tanya ternyata Pos semangka ini merupakan taman wisata, masih termasuk wilayah Desa Kradinan, hemm asik juga...lanjut... foto-foto ditaman dan dipaksa diajak Pak Agung foto dengan mbk-mbk yang cantik, biar ngk kuciwo saya mau hick..., setelah itu melanjutkan perjalanan masih 5 km lagi gaes,,,finishnya. huf... :(

Sekitar jam 11:00 alhamdulillah finish...
walaupun terakhir nyampeknya  wkwkwkwkwkwk. :D


Untuk yang males baca silahkan tonton video youtubnya  ya ..  :D jangan lupa Subcribe, like, komen dan share :D 
Terima kasih

Note:
Yang mengesankan menurut saya yaitu: Jalur offroad masuk kawasan hutan Gunting Kradinan Dolopo Madiun, suasanya asik adem, single track, tanahnya sebagian besar tidak blekuk, tidak jemek mantap poll pokoknya.

Overall acara Gobar SEGO "Jelajah Bumi Among Rogo" sudah bagus dilihat dari track atau jalurnya, memang ada berapa hal yang kurang tapi itu menurut saya masih "wajar" , semoga kedepanya lebih baik lagi. Tetap semangat..!!!.

"Secara pribadi dan Kami atas nama Komunitas Sepeda Ponorogo
Mengucapkan Selamat MILAD ke 1 SEGO Semanding Gowes Adventure Ponorogo
Sukses selalu tetap semangat, semoga tambah kompak, semoga bisa mengkampayekan, menularkan virus-virus gowes ke masyarakat khususnya yang ada di Ponorogo"
salam gowes...
Salam Warok Pancal Pedal...





Penulis Pak Unting | Editor Pak Unting
 *) Bloger, Vloger, Goweser